Tips Bisnis Fried Chicken Gerobakan Modal Rp 5 Jutaan

Bisnis Fried Chicken Gerobakan

Bisnis Fried Chicken Gerobakan

ENERGIA.ID – Bisnis ayam goreng tepung atau bisnis fried chicken gerobakan bisa jadi salah satu pilihan untuk tetap cuan di masa pandemi COVID-19. Modal untuk memulai usaha ini pun cukup terjangkau dari mulai Rp 5 jutaan.

Pakar Marketing dan Managing Partner Inventure, Yuswohady mengatakan dengan modal segitu, skala bisnis fried chicken bisa dimulai dari sangat kecil terlebih dahulu. Untuk tahap awal, kamu cukup menjangkau segmen terdekat.

“Kalau fried chicken ini menurut saya nggak terlalu besar sih jadi Rp 5 juta mungkin oke. Tapi tentu saja bisnis itu kan starting dari kecil nanti sebulan nambah omzetnya 2 kali, 3 kali gitu. Saya kira jalan juga Rp 5 juta,” katanya dalam program d’Mentor detikcom, Rabu (8/9/2021).

Setelah itu, buatlah pelanggan terdekat tersebut untuk loyal terhadap produk fried chicken yang kamu buat. Jika itu dapat dipertahankan maka pendapatan akan semakin meningkat.

“Katakanlah pertama 10 (orang) dulu, terus naik jadi 30 (orang), terus 50 (orang) karena sifat dari (jualan) ayam itu adalah berulang, sehari bisa 3 kali itu oke atau minimal sehari sekali sehingga mestinya permintaan itu akan berulang,” katanya.

“Dari situ permintaan berulang, cash flow mulai jalan, nabung terus, kemudian mulai membesar, baru masuk dari satu gerobak ke gerobak kedua dan seterusnya,” bebernya.

Tips Digital Jual Produk Fried Chicken

Meskipun gerobakan, harus tetap manfaatkan digital untuk produk fried chicken kamu. Misalnya melakukan promosi hingga buka pemesanan melalui WhatsApp (WA) grup, Instagram, hingga Facebook.

“Nanti pemenangnya bukan yang sepenuhnya digital atau fisik. Tapi bisa mengkombinasikan antara fisik dan digital. Artinya teman-teman yang di gerobakan mengandalkan fisik, tapi juga harus memulai mengembangkan channel digital,” ujarnya.

Begitu juga dengan sistem pembayarannya. “Payment-nya mungkin tidak harus hanya pakai tunai, jadi kombinasi keduanya,” tandasnya.

Pandemi COVID-19 telah membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Kalau sudah begitu jangan menyerah, masih ada cara lain untuk mendapat penghasilan seperti dengan menjalankan bisnis.

Salah satu bisnis waralaba atau kemitraan bidang kuliner yang mampu bertahan dan masih superior di tengah gempuran pandemi, yakni bisnis ayam goreng tepung atau fried chicken. Bisnis itu memiliki peluang yang sangat menjanjikan.

“Fried chicken itu kan ayam, nasi sama ayam itu nggak pernah bosen. Kita pagi makan ayam, siang makan ayam, malam makan ayam, itu bisa. Jadi artinya konsumsinya tidak kenal waktu,” kata Pakar Marketing dan Managing Partner Inventure, Yuswohady.

“Tradisi makan ayam sudah mendarah daging sehingga marketnya sudah terbentuk. Jadi pemainnya banyak pun itu market-nya akan tetap tidak ada habisnya. Itu lah kenapa ayam prospeknya menjadi sangat bagus,” tambahnya.

Yuswohady menjelaskan format fried chicken gerobakan lebih di minati di masa pandemi COVID-19. Pasalnya hal itu sangat dekat dengan konsumen yang malas bepergian di kondisi seperti saat ini.

“Karena kita nggak bisa keluar rumah maka kita ambil channel yang terdekat. Nah gerobakan ini kan dia menyebar bisa ke kampung-kampung segala macam, jadi secara channel lebih di sukai oleh pelanggan” imbuhnya.

Cara Bisnis Fried Chicken Gerobakan

Dia menyebut masyarakat yang baru ingin memulai bisnis fried chicken gerobakan tidak perlu takut dengan kompetitor yang sudah besar. Dari sisi target segmen bisa di bedakan dan cari lah lokasi yang belum banyak di temukan ayam tepung tersebut.

“Kalau ayam kan yang top of mind KFC, McD, tetapi kan mereka segmennya tertentu. Jadi jangan takut dengan pemain besar, teman-teman masih punya peluang karena marketnya besar dan segmennya ada,” katanya.

“Jadi harus lihat segmen, jangan kita jualan ayam dekat yang raksasa, justru kita ambil yang lokasi jauh dari dia dan segmennya kita ambil yang lebih bawah,” jelasnya.

Saking menjanjikannya, Yuswohady menilai bisnis makanan seperti fried chicken gerobakan bisa memiliki keuntungan hingga dua kali lipat di banding bisnis lainnya. Meskipun, diperlukan kesabaran yang ekstra.

“Secara umum memang makanan itu kan tinggi sekali, bisa dua kali lipat. Tapi ribetnya juga minta ampun makanya teman-teman yang bergerak di kuliner mereka ngaku marginnya gede tapi kalau di katakan ‘wah enak banget’, itu juga dia agak keberatan karena effort-nya juga luar biasa,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.