Energi  

Energi Panas Bumi Mahal, Teknologi Surya dan Angin Murah

Energi Panas Bumi Mahal Semakin Mahal

Energia.id – Energi panas bumi mahal berpotensi semakin tertinggal seiring semakin murahnya teknologi pembangkit energi baru terbarukan (EBT) seperti surya dan angin.

Energi panas bumi adalah energi panas yang terdapat dan terbentuk di dalam kerak bumi. Temperatur di bawah permukaan bumi bertambah seiring bertambahnya kedalaman dengan temperatur gradien panas bumi.

Energi panas bumi juga dikenal dengan nama energi geothermal yang berasal dari bahasa Yunani. Dalam bahasa Yunani kata “geo” memiliki arti bumi dan kata “thermal” memiliki arti panas.

Jadi ketika digabungkan kata geothermal memiliki arti panas bumi. Energi panas bumi sendiri dihasilkan dan disimpan di dalam inti bumi.

Jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil, panas bumi merupakan sumber energi bersih dan hanya melepaskan sedikit gas rumah kaca.

Sumber daya panas bumi adalah suber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya.

Secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan tenaga listrik atau pemanfaatan langsung lainnya.

Salah satu pemanfaatan enegi panas bumi adalah untuk menghasilkan energi listrik. Pemanfaatan energi panas bumi untuk pembangkit listrik secara garis besar dilakukan dengan cara melihat resource dari panas bumi tersebut.

Apabila suatu daerah memiliki panas bumi yang mengeluarkan uap air (steam), maka steam tersebut langsung dapat digunakan. Steam tersebut secara langsung diarahkan menuju turbin pembangkit listrik untuk menghasilkan energi listrik.

Upaya Pemerintah Genjot Energi Panas Bumi

Upaya pemerintah menggenjot penambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dalam Rencana UPTL PLN 2021-2030 sebesar 3.355 megawatt (MW) dinilai cukup berat.

Pasalnya kapasitas terpasang saat ini baru mencapai 2.175 MW.

Direktur Utama Geo Dipa Riki Ibrahim menilai target tersebut merupakan pekerjaan rumah yang cukup serius untuk diselesaikan.

Untuk itu, dia mengajak para seluruh pengembang panas bumi dan asosiasi berfikir kreatif dalam mencapai target tersebut sebelum terlambat.

Mengingat, pengembangan dari teknologi pembangkit energi baru terbarukan (EBT) lainnya saat ini semakin pesat.

Seperti teknologi dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan angin yang telah membuat harga listriknya makin murah. Indonesia juga memiliki visi 2045 yakni meningkatkan ketahanan energi dengan EBT.

“Kalau tidak sekarang kembangkan panas bumi, kita akan terlambat, sudah pasti akan terlambat, itu semua yang namanya energi surya dan angin teknologi semakin murah, kita tidak ada pilihan masyarakat gak mau dibebankan listrik yang mahal,” ujarnya dalam diskusi secara virtual, Rabu (6/10).

Direktur Utama PT Medco Power Indonesia, Eka Satria menilai Indonesia memiliki potensi panas bumi yang cukup besar yakni mencapai 23,9 gigawatt. Namun realisasi pemanfaatannya hingga kini masih rendah dan pengembangannya lamban.

Bahkan dari tahun 2000 hingga 2014 tambahan kapasitas terpasang dari PLTP hanya sebesar 176 MW. Untuk itu, pemerintah perlu menyelesaikan tiga isu utama, yakni kebijakan, teknologi dan beyond electricity.

Dengan terjawab ketiga isu tersebut, panas bumi diharapkan bisa menjadi backbone energy ke depannya.

“Sudah banyak diskusi yang kita lakukan dan saya sepakat bahwa dalam memastikan isu isu ini dapat diselesaikan semua stakeholder harus terlibat,” ujarnya.

Presiden Direktur Pertamina Geothermal Energy, Ahmad Yuniarto berharap panas bumi mempunyai peran strategis dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.

Mengingat rangkaian potensi panas bumi dari wilayah Aceh ke Indonesia Timur terbentang luas.

“Ini seolah-olah seperti backbone, menjadi tulang belakang yaitu pada saat panas bumi menjadi listrik renewable yang di sebagian green base tentunya juga ketahanan energi ini dicapai,” katanya.

Menurut dia, eksplorasi yang telah dilakukan PGE tidak hanya berupa pengeboran panas bumi saja.

Namun perusahaan juga mengeksplorasi apa saja kandungan manfaat yang kemudian dapat direalisasikan untuk menambah rantai nilai panas bumi.

“Ada beberapa hal yang sudah kami lakukan dalam riset, seperti bagaimana menggunakan panas bumi untuk menghasilkan green hidrogen,” katanya.

Sumber: Lokadata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.