Inilah Penyebab Industri Kesehatan Indonesia Susah Berkembang

Industri Kesehatan Indonesia

Industri Kesehatan Indonesia

ENERGIA.ID – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengungkapkan pengembangan industri kesehatan Indonesia sangat lah rumit. Khususnya dalam pengembangan alat kesehatan dan farmasi.

Padahal, menurutnya di sisi produksi, industri kesehatan Indonesia mampu memproduksi alat kesehatan dan obat-obatan. Namun, susah berkembang.

“Berkaitan dengan industri alat kesehatan dan pharmaceutical memang agak rumit. Ini bukan dari sisi produksinya, industri ini kita mampu,” ungkap Agus dalam rapat kerja dengan Komisi VII, Rabu (8/9/2021).

Yang jadi masalah selama ini adalah dari sisi permintaannya. Industri alat kesehatan dan farmasi produknya sejauh ini cuma bisa di beli oleh negara. Agus mengatakan industri kesehatan Indonesia masih belum bisa berharap ke pembeli swasta.

BACA : Indonesia Segera Punya Pabrik Vaksin Hasil Intip Teknologi Pfizer

“Kata kunci pengembangan industri alat kesehatan dan pharmaceutical adalah negara harus beli. Kita tidak bisa, belum bisa, berharap ke swasta untuk beli hasil industri alat kesehatan dan farmasi,” ungkap Agus.

Nah komitmen pembelian oleh negara sendiri bukan menjadi tupoksi dari Kementerian Perindustrian. Menurut Agus, pihaknya berfokus untuk menyiapkan barang dan produksi saja.

“Jadi memang pengembangan ini kata kuncinya negara harus beli. Harus ada komitmen, dan itu bukan di perindustrian. Kami siapkan barangnya aja produksinya aja,” kata Agus.

Industri Kesehatan Indonesia Susah Berkembang

Sebagai contoh saja, alat kesehatan berupa ventilator. Selama ini ventilator tidak pernah di produksi di Indonesia. Pemenuhan ventilator di lakukan secara impor.

Namun, di masa pandemi, saat ventilator menjadi kebutuhan di banyak rumah sakit baru lah industri lokal membuat ventilator dan memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan kepastian pembelian alat tersebut oleh banyak rumah sakit.

“Contoh aja ventilator, masa semenjak kita di jajah sampai tahun lalu nggak ada satupun industri yang produksi ventilator. Padahal kita kan mampu,” ungkap Agus.

Bahkan, saat ini kebutuhan ventilator sudah banyak di suplai produk dalam negeri. Utamanya, ventilator yang digunakan untuk ruangan UGD dengan tingkat yang rendah.

“Ventilator dengan grade rendah di ruangan emergency sudah di suplai industri dalam negeri, sebelumnya itu totally 100% itu impor,” papar Agus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.