Pertamina Berdayakan Masyarakat Lewat Pertanian Nanas Lahan Gambut

Pertanian Nanas Lahan Gambut

Kelompok Tani Tunas Makmur saat melakukan aktivitas di lahan gambut yang diubah menjadi lahan pertanian nanas di Sei Pakning, Bengkalis, Riau. (Foto: Dok. RU II)

Pertanian Nanas Lahan Gambut
Kelompok Tani Tunas Makmur saat melakukan aktivitas di lahan gambut yang diubah menjadi lahan pertanian nanas di Sei Pakning, Bengkalis, Riau. (Foto: Dok. RU II)

ENERGIA.ID – Kawasan hutan gambut yang berada di sekitar PT Kilang Pertamina Unit Sei Pakning merupakan kawasan rawan kebakaran.

Pada tahun 2014-2015 kebakaran lahan gambut telah menimbulkan dampak merugikan bagi aktifitas masyarakat. Seperti membakar lahan produktif dan juga memicu penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

Dulu lahan ini memang tidak terawat. Kondisinya semak dan sering terjadi kebakaran lahan. Bahkan orang sering menyebut Kampung Jawa sebagai ‘kampung neraka’.

“Kami warga secara mandiri selalu disibukkan dengan pemadaman api. Lahan pun tidak memberikan hasil apa-apa bagi kami,” kata Samsul, tokoh penggerak masyarakat Kampung Jawa.

Apabila terjadi kebakaran, Samsul dan warga sekitar ikut bahu-membahu memadamkan api. Fokus pemadaman juga membenturkan dengan kondisi ekonomi warga yang harus tetap mencari nafkah.

“Kebakaran tidak padam satu dua hari, bahkan bisa berhari-hari atau berbulan-bulan. Kami hanya memikirkan api padam dan tidak ingin ada korban lagi dari warga masyarakat,” kata Samsul berkaca-kaca.

Kisah masa lalu menjadi pembelajaran dan titik balik kesuksesan warga Kampung Jawa, Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis. Dalam mengelola Kawasan Pertanian Nanas Terintegrasi di lahan gambut.

Samsul merupakan tokoh penggerak Koperasi Tani Tunas Makmur. Ia menuturkan saat ini puluhan hektar lahan gambut di garap menjadi pertanian nanas oleh beberapa kelompok masyarakat.

Namun hasil tersebut tidak di dapat dengan membalikkan telapak tangan.

“Pemerintah, masyarakat, dan Kilang Pertamina Unit Produksi Sei Pakning turut andil dalam mengembangkan pertanian nanas, serta penghijauan di lahan gambut sehingga bisa di lihat hasilnya seperti saat ini,“ kata Samsul.

Pemanfaatan Lahan Gambut

Upaya sinergi berbagai pihak di awali dengan menghadirkan program pemanfaatan lahan gambut bekas terbakar.

Program tersebut berorientasi pada Mitigasi Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) Berbasis Masyarakat dan Pengembangan Kawasan Pertanian Nanas Terintegrasi.

Pengembangan program pemberdayaan masyarakat tersebut, di lakukan Kilang Pertamina Unit Produksi Sei Pakning secara berkelanjutan, sejak tahun 2017.

“Kenapa di pilih pengembangan pertanian Nanas, karena untuk mengelolanya dan membuka lahan gambut menggunakan sistem tanpa bakar,” kata Samsul.

“Dari awal hanya saya garap sekitar setengah hektar, kini sudah berlipat-lipat menjadi 30 hektar lahan gambut yang di garap warga Kampung Jawa sebagai Kawasan Pertanian Nanas Teringtegrasi,” jelas Samsul.

Saat ini, lahan telah memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat baik dari hasil pertanian nanas, maupun beragam produk olahan nanas yang di buat ibu rumah tangga.

Pada tahun 2020 pendapatan dari hasil lahan pertanian mencapai 257 juta pertahun.

“Yang tidak kalah pentingnya dampak bagi lingkungan, karena kami bisa menghirup udara segar tanpa ada ancaman kebakaran yang acap kali membuat dada kami sesak,” papar Samsul.

Selain itu, warga yang juga berprofesi sebagai Masyarakat Peduli Api (MPA) juga rutin mengontrol lahan gambut agar tidak terbakar. Secara berkala patroli, dan segera memadamkan api.

Apresiasi Pertamina untuk Petani Nanas Lahan Gambut

Kesuksesan warga Sungai Pakning dalam mengatasi dampak kebakaran yang di ikuti dengan upaya peningkatan ekonomi ini mendapat apresisasi dari VP CSR & SMEPP Management PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita saat mengunjungi Kawasan Pertanian Nanas Terintegrasi.

“Kami melihat lahirnya program ini bermula dari aspirasi masyarakat yang di tangkap oleh Kilang Pertamina Unit Produksi Sei Pakning. Terus melakukan upaya pendampingan secara berkesinambungan dengan berbagai program,” katanya.

Bahkan pengembangan lahan gambut di replikasi ke wilayah terdekat serta di kembangkan dengan tanaman lain seperti serai.

“Ini menunjukkan kehadiran Pertamina saling bersinergi denan masyarakat dalam upaya melestarikan lingkungan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat,” kata Arya.

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Dumai PT Pertamina Kilang Internasional Imam Rismanto mengatakan Kawasan Pertanian Nanas Terintegrasi ini merupakan salah satu dari Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang dirangkum dalam klaster Kampung Gambut Berdikari.

Di mana dalam klaster program Kampung Gambut Berdikari tersebut terdapat beberapa program lain. Di antaranya Mitigasi Karhutla Berbasis Masyarakat Peduli Api.

Yakni kelompok masyarakat yang bertugas dalam pemadaman kebakaran lahan gambut, Sekolah Cinta Gambut yang merupakan program edukasi bagi generasi muda peduli terhadap lahan gambut.

Arboretum Gambut adalah area konservasi dan eduwisata gambut. Di mana di dalamnya terdapat upaya pelestarian tanaman langka Kantong Semar.

Program tersebut menjadi bukti perusahaan menjalin kerja sama sangat baik dengan masyarakat dan berbagai pihak dalam pelaksanaan program Tanggung Jawab sosial masyarakat yang telah di rasakan manfaatnya baik dari sisi ekonomi, sosial dan lingkungan.

Energia.id merupakan situs berita terkini, berita hari ini, berita terbaru, berita energi, berita bisnis, ekonomi, finansial, investasi di Indonesia dan Internasional terkini.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *