Subholding Upstream Pertamina Percepat Proses Persetujuan Investasi

Subholding Upstream Pertamina

Subholding Upstream Pertamina

ENERGIA.ID – Setelah restrukturisasi Pertamina menjadi Holding-Subholding sejak tahun 2020 yang di ikuti dengan penetapan organisasi Subholding Upstream Pertamina.

Pertamina telah melakukan perbaikan di berbagai bidang. Khususnya dalam hal efesiensi dan efektivitas operasi yang lebih terintergeritas demi menjalankan bidang usahanya.

Organisasi lebih ramping dan efisien menjadikan Subholding Upstream. Lebih gesit dan berada di jalur yang benar untuk menjadi center of excellence serta menjadi yang terbaik di industri migas.

Perubahan delegasi kewenangan persetujuan investasi menjadikan proses persetujuan lebih cepat. Kemudian mengurangi tahapan persetujuan investasi yang sebelumnya di lakukan di Holding.

Hal ini sejalan dengan tujuan dari restrukturisasi untuk dapat menjadi lebih cepat dan lincah.

Henricus Herwin, VP D&P Technical Excellence & Coordination Subholding Upstream Pertamina menjelaskan bahwa seiring berjalannya satu tahun restrukturisasi Pertamina makin terlihat dampak positif bagi perusahaan. Baik holding maupun Subholding, dari segi operasional maupun investasi.

Transformasi Upstream Pertamina

Transformasi Subholding Upstream Pertamina mempercepat proses dengan menghasilkan kebijakan khusus persetujuan investasi terkait dengan Wilayah Kerja (WK) Rokan.

Akuisisi dan alih kelola oleh Anak Perusahaan Hulu atau perusahaan terafiliasi di lingkungan Subholding Upstream.

Seperti yang sudah di lakukan. Di mana kegiatan investasi di WK akuisisi dan alih kelola selama satu tahun pertama. Dapat di kerjakan dengan mengacu pada persetujuan investasi anorganik akuisisi dan alih kelola.

“Keputusan akhir investasi atau yang biasa di sebut Final Invesment Decision (FID) organik pengembangan baru di perlukan mulai tahun kedua,” jelas Henricus.

Paska di tetapkannya pola holding-subholding di tahun 2020. Juga di ikuti dengan di terbitkannya revisi mekanisme review akhir untuk nilai investasi yang memerlukan persetujuan holding.

“Sebelumnya, review akhir di lakukan secara bertingkat. Dari subholding kemudian ke holding. Saat ini sudah di pangkas jalurnya menjadi joint review atau review akhir. Di lakukan secara bersama-sama holding dan subholding sehingga prosesnya menjadi lebih cepat,” lanjut Henricus.

Salah satu implementasi percepatan proses persetujuan investasi tersebut dapat di lihat pelaksanaannya di WK Rokan (Blok Rokan) yang telah beralih pengelolaannya ke Pertamina Hulu Rokan sejak tanggal 9 Agustus 2021.

Pertamina Hulu Rokan yang juga sebagai Regional Sumatera mempunyai komitmen melakukan akselerasi studi subsurface, surface dan keekonomian untuk mendapatkan Final Investment Decision (FID) khususnya terkait beberapa rencana kerja infill drilling di WK Rokan (Blok Rokan).

Akselerasi Pertamina

Akselerasi di lakukan dengan melakukan joint review atau review bersama dan menempatkan person-in-charge di setiap proses yang harus di lalui. Khususnya untuk penyelesaian Optimasi Pengembangan Lapangan-Lapangan (OPLL).

Sehingga rencana kerja program infill drilling sebanyak lebih dari 650 sumur untuk tahun 2021 sampai dengan 2022 bisa mendapatkan persetujuan dengan cepat dan persiapan dapat di lakukan sejak awal.

Pembaharuan juga di lakukan pada program Pertamina Upstream Development Way (PUDW) dengan prinsip streamlining dan memberikan kebijakan khusus proses fast track di sesuaikan dengan kondisi dan kompleksitas proyek tanpa mengurangi kematangan yang di perlukan untuk membuat proyek yang OTOBOSOR (On Track, On Budget, On Scope, On Return)

“Pembaharuan tersebut antara lain proyek dapat langsung ke tahap kajian lanjut untuk proyek yg telah memiliki POD (Plan of Development), kategori non operated asset, dan revisi FID pada kasus-kasus tertentu. Selain itu proses fast track juga bisa dilakukan untuk proyek yang bersifat pemboran sumur sisipan,”jelas Henricus.

Dalam pelaksanaannya, hasil proses streamlining di lingkungan Subholding Upstream menunjukkan trend yang cukup menggembirakan. Dengan jangka waktu 7 bulan di tahun 2021 ini, persetujuan FID Upstream telah di berikan untuk 25 proyek.

Lebih banyak dari pada tahun-tahun sebelumnya yang biasanya berkisar antara 20-25 proyek yang mendapat FID per tahunnya.

“Dengan adanya restrukturisasi yang menciptakan percepatan proses pengambilan di lingkungan Upstream ini di harapkan mampu mengoptimalkan kinerja perusahaan guna menjawab tantangan target produksi migas nasional sebesar 1 juta BOPDdan 12 BSCFD pada tahun 2030,” tutup Budiman Pahursip, CEO Subholding Upstream Pertamina.

Sumber: pertamina.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.