Popularitas teknologi kecerdasan buatan (AI) asal China, DeepSeek, kini mendapat tantangan besar setelah beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, dan Korea Selatan, mengeluarkan larangan penggunaan.
Salah satu alasan utama adalah kekhawatiran terkait masalah keamanan dan potensi risiko yang ditimbulkan oleh aplikasi AI ini.
Australia menjadi negara pertama yang melarang penggunaan DeepSeek di seluruh perangkat pemerintah.
Pemerintah Australia menginstruksikan semua entitas pemerintah untuk tidak menggunakan atau menginstal aplikasi, produk, serta layanan web yang dikembangkan oleh startup China tersebut.
“Semua entitas pemerintah wajib mencegah pemasangan atau penggunaan produk dan layanan DeepSeek serta menghapus aplikasi tersebut dari sistem dan perangkat mereka,” ujar Sekretaris Departemen Dalam Negeri Australia dalam sebuah pengumuman resmi, dilansir oleh CNN Indonesia.
Langkah serupa juga diambil oleh Korea Selatan. Pada 4 Februari 2025, pemerintah negara tersebut mengeluarkan pemberitahuan yang meminta kementerian dan lembaga-lembaga untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan layanan AI seperti DeepSeek maupun ChatGPT di tempat kerja.
Perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sektor energi, termasuk perusahaan energi hidro dan nuklir milik negara, telah memblokir penggunaan DeepSeek sejak awal Februari.
Bahkan, perusahaan teknologi swasta besar seperti Kakao Corp juga melarang penggunaan layanan ini oleh karyawan mereka.
Di Amerika Serikat, masalah ini mendapat perhatian serius, dengan pemerintah sedang mengajukan rancangan undang-undang yang bertujuan melarang penggunaan teknologi seperti DeepSeek.
RUU yang diajukan oleh Senator Partai Republik, Josh Hawley, berupaya melarang warga Amerika membantu dalam pengembangan kemampuan AI di China.
Jika disetujui, peraturan ini akan mengatur impor teknologi dan kekayaan intelektual yang dikembangkan di China, dengan ancaman hukuman penjara hingga 20 tahun dan denda yang dapat mencapai US$1 juta untuk individu dan hingga US$100 juta untuk perusahaan.
Meskipun RUU ini tidak secara langsung menyebutkan DeepSeek, tindakan ini muncul hanya beberapa hari setelah aplikasi AI asal China tersebut menjadi yang paling banyak digunakan di Amerika Serikat, yang menyebabkan penurunan nilai saham di sektor teknologi AS.
DeepSeek juga menuai kecemasan terkait privasi, keamanan, serta etika, terutama dalam hal ketidakmampuannya untuk memberikan jawaban tentang isu-isu sensitif yang berkaitan dengan Partai Komunis China.
Kebijakan pelarangan ini menambah panjang daftar negara yang telah mengambil tindakan terhadap DeepSeek, termasuk Italia dan Taiwan. Beberapa negara Eropa dan kawasan lainnya kini juga tengah memantau dengan ketat perkembangan teknologi ini.








