beritane.com
beritane.com

Inovasi Toyota dalam Transisi Energi Bersih dan Upaya Pengurangan Emisi Karbon Indonesia

Inovasi Toyota dalam Transisi Energi Bersih
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Reza (ketiga kanan) didampingi Kepala Pusat Industri Hijau Kemenperin Apit Pria Nugraha (kedua kanan), dan Direktur IMATAP Ditjen ILMATE Kementerian Perindustrian Mahardi. T. Wicaksana (kiri) bersama Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam (ketiga kanan), serta jajaran direksi TMMIN di ajang CN Mobility Event.

Pemanfaatan potensi energi terbarukan di Indonesia masih memiliki peluang besar yang belum dimaksimalkan, terutama dalam sektor otomotif.

Pemerintah mendorong percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sebagai bagian dari upaya transisi menuju energi yang lebih bersih, dengan fokus pada sektor ini.

Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, mengungkapkan bahwa produsen otomotif nasional, Toyota, kini tidak hanya dikenal sebagai perusahaan otomotif, tetapi juga telah berkembang menjadi pelaku industri energi yang berperan besar dalam transisi ke energi bersih.

Menurut Faisol, komitmen Toyota dalam hal ini tampak dari kolaborasinya dengan berbagai pihak, seperti akademisi, kementerian terkait, hingga masyarakat luas.

“Toyota sudah menjadi perusahaan energi, bukan hanya otomotif. Komitmen besar mereka terlihat jelas melalui keterlibatan banyak pihak, mulai dari akademisi, kementerian, hingga masyarakat,” ujar Faisol saat menghadiri pameran Carbon Neutrality (CN) Mobility Event yang diselenggarakan Toyota Indonesia di Gambir Expo, dalam rangka Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025, pada 12-15 Februari di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Dengan tema “Beyond Zero: Mobilitas untuk Netralitas Karbon,” acara ini sekaligus menjadi ajang untuk menyelenggarakan Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) kedua oleh Kemenperin pada 2025.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung tercapainya industri hijau yang berfokus pada pengurangan emisi karbon, ketahanan energi, serta keberlanjutan lingkungan.

Faisol memberikan apresiasi terhadap langkah Toyota dalam mengembangkan kendaraan listrik melalui konversi dari kendaraan berbahan bakar internal combustion engine (ICE).

Salah satu prototipe yang sedang dikembangkan adalah Toyota Innova listrik, yang menurutnya sangat mungkin terwujud.

“Toyota tengah merancang konversi kendaraan ICE menjadi kendaraan listrik. Prototipe Toyota Innova listrik sedang dikembangkan, dan kelihatannya ini sangat memungkinkan. Kami hanya perlu menghitung potensi skala ekonomi serta insentif yang dapat diberikan pemerintah untuk mendukung dekarbonisasi,” tambah Faisol.

Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian, Apit Pria Nugraha, juga menegaskan pentingnya sektor otomotif dalam pengurangan emisi karbon di Indonesia.

Sektor transportasi berkontribusi sebesar 6,8% terhadap PDB nasional, namun juga menyumbang 159 MtCO₂eq terhadap total emisi karbon nasional.

Oleh karena itu, transisi menuju transportasi rendah karbon menjadi sangat vital untuk mengurangi dampak lingkungan tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Dalam upaya mencapai net zero emission, Kemenperin mengembangkan ekosistem industri hijau, termasuk konsep Green Industry Service Company (GISCO) yang bisa membantu industri dalam mengimplementasikan teknologi rendah karbon,” ujar Apit.

Dengan berbagai upaya ini, Indonesia diharapkan dapat mempercepat pencapaian target pengurangan emisi karbon dan mengembangkan industri hijau yang berkelanjutan.