beritane.com
beritane.com

Generasi Muda Siap Menjadi Motor Penggerak Transisi Energi dalam Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional

Generasi Muda Siap Menjadi Motor Penggerak Transisi Energi

Generasi muda memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan cita-cita Indonesia untuk mencapai swasembada energi di masa depan.

Jika sejak dini mereka memahami konsep ketahanan energi, bukan hal yang mustahil jika mereka menjadi motor penggerak dalam transisi menuju ketahanan energi nasional.

Salah satu fokus utama yang saat ini sedang digencarkan oleh pemerintah adalah pendidikan mengenai transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam, Lana Saria, menjelaskan bahwa generasi mendatang memiliki peluang besar dalam mengembangkan kebijakan energi yang lebih baik, sesuai dengan perkembangan teknologi dan globalisasi yang semakin pesat.

Di hadapan peserta lomba debat mahasiswa bertema Generasi Emas 245: Berkarya untuk Mewujudkan Transisi Energi, yang diadakan di Gedung Elnusa pada Rabu, 5 Februari 2025, Lana menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi tantangan energi di masa depan.

Pentingnya Peran Generasi Muda dalam Transisi Energi

Lana menyatakan bahwa Indonesia terus berkomitmen dalam pengembangan energi terbarukan, dengan target ambisius pada tahun 2024, total kapasitas terpasang pembangkit EBT akan mencapai 15 GW atau sekitar 15% dari total kapasitas pembangkit listrik Indonesia yang diproyeksikan sebesar 101 GW.

Lebih lanjut, pada periode 2025 hingga 2034, Indonesia menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 71 GW, dimana sekitar 72% dari kapasitas ini akan berasal dari EBT dan teknologi penyimpanan energi (energy storage).

Selain itu, Indonesia juga terus mengembangkan penggunaan biodiesel dalam upaya mewujudkan ketahanan energi.

Pada tahun 2024, diperkirakan produksi biodiesel mencapai 13,15 juta KL untuk program mandatori B35 yang ditargetkan dapat menghemat devisa hingga USD 9,33 miliar atau sekitar Rp 147,5 triliun. Lana juga mengungkapkan bahwa mulai tahun 2025, program biodiesel akan meningkat menjadi B40.

Lomba Debat sebagai Wadah untuk Meningkatkan Pemahaman Energi

Melalui lomba debat ini, Lana berharap agar para peserta debat, yang sebagian besar merupakan mahasiswa, tidak hanya menunjukkan kemampuan berbicara dan berargumentasi dengan baik, tetapi juga menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang isu-isu energi yang sangat kompleks, termasuk transisi energi, pengembangan EBT, dan kebijakan pemerintah dalam mencapai ketahanan energi.

Tim Universitas Pertamina berhasil keluar sebagai juara lomba debat ini setelah mengalahkan Santai Well dari Institut Teknologi PLN (IT PLN) di babak final.

Tim Pertamina memenangi final dengan keunggulan tipis, yang menunjukkan bahwa seluruh peserta memiliki pemahaman yang sangat baik mengenai topik transisi energi.

Sebelumnya, Tim Pertamina berhasil mengalahkan Tiryata dari UPN Veteran Jakarta, sementara Santai Well berhasil mengalahkan Sigmaxxim dari Universitas Diponegoro. Tiryata dan Sigmaxxim ditetapkan sebagai pemenang juara 3 bersama.

Pentingnya Pemahaman Mendalam tentang Transisi Energi

Direktur Utama PT Visi Dunia Energi, Hidayat Tantan, mengungkapkan bahwa kemenangan Tim Pertamina menunjukkan tingkat keunggulan yang sangat tipis, yang menunjukkan bahwa semua finalis memiliki pemahaman yang sangat baik terhadap tema debat yang diangkat.

“Para peserta berhasil menguasai tema debat mengenai transisi energi dengan sangat baik. Meskipun dewan juri harus memilih pemenang berdasarkan berbagai parameter yang telah ditetapkan, kami tetap melihat semua tim memiliki kemampuan luar biasa,” kata Tantan.

Dewan juri lomba debat terdiri dari Komaidi Notonegoro (Direktur Eksekutif Reforminer Institute), Ali Ahmudi Achyak (Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies – CESS), Rachman Ridatullah (Dosen Universitas Padjadjaran), dan Hudi D. Suryodipuro (Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas). Hudi, sebagai juri tamu dari sektor pemerintah, memberikan apresiasi tinggi kepada para peserta.

“Debat ini bukan hanya ajang untuk beradu argumen, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memahami dan memberikan solusi atas tantangan besar yang dihadapi dalam mengelola sumber daya alam dan energi di masa depan,” ujar Hudi.

Ali Ahmudi Achyak juga menyatakan bahwa semua tim telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam berdebat dan menguasai materi debat. “Penilaian sangat ketat, dan perbandingan antartim sangat tipis. Setiap tim memiliki pemahaman yang luar biasa tentang transisi energi,” ujar Ali.

Tema Debat yang Diperbincangkan

Lomba debat ini mengangkat enam tema utama yang sangat relevan dengan kondisi energi Indonesia saat ini, di antaranya adalah penggunaan energi fosil di era transisi energi, peran perbankan dalam mendanai pengembangan energi hijau, peran sumber daya manusia dalam transisi energi Indonesia, kebijakan pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi, pengembangan EBT, serta hilirisasi sumber daya alam.

Setiap tema dibahas secara mendalam oleh para peserta yang menunjukkan betapa pentingnya transisi energi dan upaya Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil menuju penggunaan energi terbarukan yang lebih bersih.

Kesimpulan

Lomba debat ini bukan hanya ajang kompetisi semata, tetapi juga menjadi sarana penting bagi generasi muda untuk memahami dan memperdalam pengetahuan mengenai isu-isu energi yang kompleks.

Keberhasilan generasi muda dalam menguasai tema debat tentang transisi energi membuktikan bahwa mereka siap menjadi motor penggerak dalam mewujudkan ketahanan energi Indonesia yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Dengan pendidikan dan kesadaran sejak dini, generasi muda diharapkan dapat berperan besar dalam mencapai cita-cita swasembada energi di masa depan.