beritane.com
beritane.com

Blue Economy, Sumber Protein untuk Atasi Stunting di Indonesia

Blue Economy, Sumber Protein untuk Atasi Stunting

Pemanfaatan blue economy yang berfokus pada potensi air laut dan air tawar memiliki peluang besar untuk menjadi sumber protein yang dapat membantu mengatasi masalah stunting di Indonesia.

Konsep ini juga membuka peluang bagi pelaku bisnis dan investor untuk berinovasi dalam menciptakan ekonomi maritim yang berkelanjutan.

National Project Manager ASEAN Blue Economy Innovation, Jatu Arum Sari, mengungkapkan bahwa sektor blue economy di kawasan ASEAN memiliki potensi besar, tidak hanya untuk mengembangkan bisnis, tetapi juga untuk menyelesaikan masalah kesehatan seperti stunting.

“Blue economy dapat membantu mengatasi masalah stunting di Indonesia dengan memanfaatkan sumber daya laut dan air tawar secara lebih efisien,” ujar Jatu dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (15/2/2025).

Menurut Jatu, salah satu contoh konkret adalah pengolahan ikan dengan nilai ekonomi rendah menjadi produk bernilai tinggi, seperti bubuk ikan atau susu ikan.

Produk-produk ini dapat digunakan untuk memperkaya gizi makanan lain, seperti cookies atau mie, yang bisa membantu mengurangi malnutrisi dan stunting.

“Susu ikan yang diproduksi dari ikan dengan nilai rendah dapat menjadi sumber protein yang diperkaya untuk berbagai jenis makanan,” tambahnya.

Selain ikan, pemanfaatan rumput laut (seaweed) juga menawarkan solusi untuk masalah stunting. Rumput laut kaya akan protein, vitamin, mineral, dan serat, yang semuanya bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anak yang terkena dampak malnutrisi.

Masalah stunting di Indonesia masih menjadi tantangan besar, dengan angka stunting mencapai 21,6% berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022.

Meskipun terjadi penurunan dari 24,4% pada tahun 2021, Indonesia masih perlu upaya besar untuk mencapai target penurunan stunting menjadi 14% pada 2024.

Peran Penting Blue Economy

Blue economy memiliki peran vital bagi Indonesia, mengingat luas wilayah laut yang lebih besar daripada daratan. Jatu menjelaskan bahwa sektor ini berpotensi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif di ASEAN, dengan proyeksi kontribusi blue economy terhadap ekonomi global mencapai $3 triliun pada 2030, sekaligus menciptakan 43 juta lapangan pekerjaan baru.

“Sebagai negara dengan potensi laut yang besar, Indonesia harus siap memanfaatkan potensi blue economy. Ini adalah paradigma baru mengenai peran laut yang harus kita tangkap,” ujar Jatu.

Ia juga menambahkan bahwa negara-negara ASEAN semakin tertarik pada isu ketahanan pangan, netralitas karbon, pengurangan sampah plastik, serta percepatan digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI), yang semuanya dapat dikembangkan melalui blue economy.

Dengan semakin meningkatnya fokus pada keberlanjutan di kalangan komunitas bisnis global, peluang yang ditawarkan oleh blue economy akan semakin terbuka bagi investor dan pengusaha yang visioner.

Untuk mengeksplorasi potensi ini, ASEAN Blue Innovation Expo and Business Matching akan diselenggarakan pada 19 Februari 2025 di Menara Mandiri Jakarta, yang juga menjadi ajang peluncuran Proyek ASEAN Blue Economy Innovation (ABEI).

Pameran Inovasi Blue Economy

Jatu menyebutkan bahwa pameran ini akan menjadi platform penting untuk menghubungkan usaha rintisan, pelaku bisnis, investor, serta pembuat kebijakan dan mitra pembangunan.

“ASEAN Blue Innovation Expo akan menampilkan inovasi-inovasi terbaru di bidang akuakultur, bioteknologi, pengganti bahan plastik, serta konservasi karbon biru,” jelas Jatu.

Ajang ini akan menampilkan 60 inovasi dari lebih dari 1.300 aplikasi yang datang dari berbagai sektor, seperti perikanan dan akuakultur berkelanjutan, pengurangan polusi plastik, masalah iklim, dan pariwisata berkelanjutan.

“Inovasi ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan melestarikan ekosistem laut serta air tawar,” pungkas Jatu dikutip dari Investor.