China tengah mempercepat reformasi sistem penetapan harga energi terbarukan yang berbasis pasar sebagai bagian dari upaya membangun infrastruktur ketenagalistrikan yang lebih modern dan mendukung pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan secara berkelanjutan.
Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) dan Administrasi Energi Nasional (NEA) baru-baru ini mengeluarkan pengumuman bersama yang menggarisbawahi langkah-langkah dalam reformasi penetapan harga energi terbarukan.
Reformasi ini berfokus pada tiga hal utama: memberikan peran pasar dalam menentukan harga energi terbarukan, membangun mekanisme penetapan harga yang dapat memastikan keberlanjutan jangka panjang, dan mengadopsi kebijakan yang sesuai untuk proyek baru dan yang sudah berjalan.
China Percepat Reformasi Penetapan Harga Energi Terbarukan
Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi China untuk Promosi Pembangunan Industri, Zhang Dayong, menyatakan, “Kebijakan penetapan harga baru ini akan mempercepat pembangunan sistem ketenagalistrikan yang lebih modern dan menjamin pertumbuhan energi terbarukan yang berkelanjutan.”
Reformasi ini dianggap penting oleh kalangan pakar industri karena menandai babak baru dalam pengembangan energi terbarukan di China. Negara ini telah meluncurkan berbagai kebijakan yang mendukung sektor energi baru, seperti energi surya dan angin, dengan fokus pada aspek penetapan harga, pembiayaan, serta kebijakan industri. Ini telah menghasilkan pertumbuhan kapasitas energi terbarukan yang pesat.
Hingga akhir 2024, kapasitas energi terbarukan terpasang di China diperkirakan mencapai 1,41 miliar kilowatt, yang berkontribusi lebih dari 40 persen terhadap total kapasitas listrik negara tersebut, bahkan melampaui kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara.
Namun, meskipun ada ekspansi yang pesat, mekanisme penetapan harga tetap yang berlaku saat ini dirasa tidak mampu mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.
Beberapa analis menilai bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk beralih ke sistem harga berbasis pasar, mengingat turunnya biaya pembangkit listrik dan perkembangan pasar yang semakin matang.
Mereka memprediksi bahwa reformasi ini akan meningkatkan efisiensi sektor energi terbarukan dan mendorong pertumbuhan berkualitas tinggi yang lebih berkelanjutan.
Biaya pembangkit listrik tenaga surya dan angin di China telah turun signifikan dibandingkan dengan tahap awal pengembangan.
Saat ini, biaya pembangkit listrik tersebut berkisar antara 0,2 hingga 0,3 yuan per kilowatt-jam (kWh). Selain itu, pasar listrik domestik juga semakin berkembang dengan adanya regulasi yang memfasilitasi partisipasi lebih luas dari berbagai pihak.
Wakil Kepala NEA, Song Hongkun, menjelaskan bahwa peran pasar dalam distribusi listrik semakin meningkat.
Dari Januari hingga Oktober 2024, total transaksi listrik berbasis pasar di China tercatat mencapai 5,08 triliun kWh, dengan pangsa pasar listrik yang diperdagangkan naik signifikan dari 17 persen pada tahun 2016 menjadi 62 persen. Hampir setengah dari total pembangkit listrik terbarukan di China kini diperdagangkan melalui pasar.
Energi China Berada di Garis Depan Dunia
Liu Manping, seorang ekonom NDRC, menegaskan bahwa sektor energi terbarukan China saat ini berada di garis depan dunia, namun untuk menjaga daya saing jangka panjang dan perkembangan yang sehat, sektor ini harus mampu bersaing di pasar yang kompetitif. Penetapan harga berbasis pasar menjadi kunci dari reformasi yang diusung.
Pakar energi juga memperkirakan bahwa reformasi ini akan mendorong inovasi teknologi dalam pembangkit listrik tenaga surya dan angin, yang pada gilirannya akan semakin menurunkan biaya.
Di sisi lain, Zhang Dayong menambahkan bahwa meskipun reformasi ini dapat mengarah pada keuntungan yang lebih rendah untuk beberapa proyek, hal ini justru akan memfokuskan modal sosial untuk pengembangan energi terbarukan non-listrik, yang akan memperluas ekosistem energi terbarukan di China.








