Simon Panjaitan, General Manager PT Wilmar, membuka pertemuan silaturahmi dengan LAMR Dumai, yang turut dihadiri oleh Deputi Manager, Head Manager, Humas, dan Manager Security PT Wilmar.
Dalam sambutannya, Simon berharap pertemuan ini dapat mempererat hubungan antara perusahaan dan LAMR, serta menyampaikan permintaan maaf atas isu-isu yang terjadi belakangan ini.
“Kami berharap pertemuan ini dapat menciptakan hubungan yang lebih baik di masa depan. Kami juga mohon maaf atas situasi yang terjadi dan berharap dapat belajar dari para datuk di LAMR Dumai,” kata Simon Panjaitan.
Pertemuan yang berlangsung di Gedung LAMR Dumai itu disambut langsung oleh Ketua DPH LAMR Dumai, Datuk Seri Zamhur Egap, beserta sejumlah tokoh adat lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Zamhur Egap mengucapkan terima kasih atas kunjungan Wilmar dan menekankan pentingnya komunikasi yang baik dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Ia berharap kunjungan ini menjadi momentum bagi hubungan yang lebih harmonis ke depannya.
“Kami berterima kasih atas kunjungan PT Wilmar. Dengan komunikasi yang baik, segala masalah pasti dapat diselesaikan. Semoga ini menjadi langkah menuju hubungan yang lebih baik,” ujar Zamhur Egap.
Pada kesempatan yang sama, Zamhur Egap menyinggung masalah yang tengah dihadapi, terutama terkait dengan perlindungan terhadap nasib masyarakat Dumai.
Namun, ia mengajak semua pihak untuk mencari solusi bersama dan melupakan masalah yang telah berlalu demi masa depan yang lebih baik.
Hal serupa disampaikan oleh Ketua Dewan Kehormatan Adat, H Ujang Ilyas, yang sepakat untuk mencari solusi terbaik terkait isu tenaga kerja yang tengah diperjuangkan oleh Tameng Adat LAMR Dumai.
“Kami sepakat bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Semoga niat baik kita semua mendapat ridho dari Allah SWT,” ujarnya.
Pertemuan ini juga dimaksudkan untuk menindaklanjuti tuntutan yang muncul dalam aksi demonstrasi di depan kantor PT Wilmar di Gate Kantor Jalan Datuk Laksamana dan Kawasan Industri Dumai (KID) Pelintung pada Senin, 10 Februari 2025.
Dalam aksi tersebut, salah satu tuntutan yang disampaikan adalah nasib 12 pekerja yang dirumahkan dan pembatalan kontrak dengan PT Ganda Prabu Nusantara (GPN).
Menanggapi hal ini, Simon Panjaitan menjelaskan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti tuntutan dengan memastikan bahwa 12 pekerja tersebut akan segera diprioritaskan untuk bekerja kembali.
“Kami akan memastikan semua pekerja dapat kembali bekerja sesuai dengan UMK dan kontrak yang berlaku. Kami juga akan berkoordinasi dengan perusahaan lain di KID untuk menampung mereka,” ungkap Simon.
Terkait isu keberadaan PT Ganda Prabu Nusantara, Panglima Tameng Adat Tengku Dedek Iskandar menegaskan agar PT Wilmar lebih teliti dalam memilih perusahaan subkontraktor, terutama yang dapat memicu ketegangan seperti yang ditimbulkan oleh PT GPN.
“Kami meminta agar GPN tidak lagi terlibat di Dumai. Kami berharap GM Wilmar tegas dalam menyikapi masalah ini,” tegas Tengku Dedek Iskandar.
Simon Panjaitan merespon dengan bijak, menegaskan bahwa pihaknya tidak terpengaruh oleh tekanan luar dan akan melakukan evaluasi terkait kontrak dengan PT GPN.
“Kami akan memulai evaluasi dan memastikan tindakan yang diambil sesuai kewenangan kami. Saya tidak kenal dengan pihak di belakang GPN dan kami tidak akan terintervensi,” katanya.
Sebagai penutup, Simon mengucapkan terima kasih kepada LAMR Dumai atas sambutannya dan berharap silaturahmi ini menjadi awal yang baik untuk hubungan yang lebih erat ke depan.
Hasil pembicaraan dari pertemuan tersebut dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani bersama oleh Simon Panjaitan dan pengurus LAMR Dumai.
Pertemuan berakhir pada pukul 11.20 WIB dengan doa bersama, salaman, dan sesi foto bersama antara GM Wilmar dan pengurus LAMR Dumai.








