beritane.com
beritane.com

Harga Emas Mulai Menguat Setelah Penurunan Akhir Pekan, Fokus Pada Risalah FOMC

Harga Emas

Energia – Harga emas dunia mengalami kenaikan setelah sempat mengalami penurunan tajam pada akhir pekan lalu.

Pada awal perdagangan pekan ini, harga emas diperkirakan akan lebih stabil, mengingat tidak ada data ekonomi besar yang akan dirilis, kecuali risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan keluar pada Kamis mendatang.

Pada perdagangan Senin (17/2/2025), hingga pukul 06.15 WIB, harga emas di pasar spot menguat sebesar 0,33% menjadi US$2.892,94 per troy ons.

Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (14/2/2025), harga emas dunia di pasar spot mengalami penurunan signifikan sebesar 1,57% dan ditutup pada level US$2.883,18 per troy ons.

Penurunan harga emas pada Jumat lalu dipicu oleh aksi mengambil keuntungan (taking profit) meskipun harga emas masih diprediksi untuk mencatatkan kenaikan mingguan ketujuh berturut-turut.

Kenaikan tersebut sebagian besar didorong oleh kekhawatiran yang muncul akibat ketegangan perdagangan global, setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mendesak kebijakan tarif timbal balik.

Peter Grant, wakil presiden sekaligus ahli strategi logam senior di Zaner Metals, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor teknis yang turut berperan dalam penurunan harga emas pada akhir pekan lalu.

Salah satunya adalah ketidakmampuan harga emas untuk mencapai level tertinggi sepanjang masa pada Selasa (11/2/2025), yang menimbulkan potensi pola double top. Selain itu, aksi mengambil keuntungan menjelang akhir pekan juga turut menekan harga emas.

Namun, di sisi lain, Alex Ebkarian, kepala operasi di Allegiance Gold, menilai bahwa tren bullish pada harga emas masih berlanjut.

Menurutnya, beberapa faktor seperti ketidakpastian global terkait perang tarif, melemahnya dolar AS, serta peralihan besar dari emas kertas ke emas fisik, mendorong permintaan akan logam mulia ini.

Pada Kamis (13/2/2025), Presiden Trump memerintahkan tim ekonominya untuk menyusun rencana tarif timbal balik bagi negara-negara yang mengenakan pajak atas impor produk AS.

Kebijakan ini berpotensi menambah tekanan inflasi, yang bisa mendorong permintaan akan emas sebagai aset safe haven, atau investasi yang dianggap aman di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Sementara itu, pelaku pasar kini tengah menantikan risalah dari pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dirilis pada Kamis, 20 Februari 2025.

Risalah ini merupakan hasil keputusan yang diambil oleh The Federal Reserve (The Fed) pada Januari lalu, di mana bank sentral AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan.

Risalah FOMC ini akan menjadi panduan bagi para pelaku pasar, khususnya para trader emas, untuk memprediksi arah kebijakan The Fed ke depan.

Jika dalam risalah tersebut terdapat sinyal bahwa pelonggaran kebijakan moneter akan semakin sulit dilakukan, maka harga emas berpotensi tertekan.

Sebaliknya, jika The Fed mempertahankan kebijakan pelonggaran moneter, harga emas bisa terus mengalami penguatan.

Secara keseluruhan, meskipun harga emas sempat mengalami penurunan pada akhir pekan lalu, pasar masih melihat adanya potensi kenaikan harga emas dalam jangka pendek, terutama dengan adanya faktor ketidakpastian global yang terus mendominasi.

Pelaku pasar kini menunggu petunjuk lebih lanjut dari risalah FOMC untuk menentukan arah kebijakan The Fed yang akan berpengaruh besar terhadap pergerakan harga emas di masa mendatang.

Sumber: CNBC Indonesia