Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengumumkan penetapan Harga Indeks Pasar (HIP) untuk Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis Biodiesel dan Bioetanol pada Februari 2025.
Berdasarkan informasi yang dibagikan melalui akun Instagram resmi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) pada Kamis (6/2), harga untuk masing-masing jenis BBN telah ditentukan sebagai berikut:
- Harga HIP Biodiesel: Rp 13.231 per liter ditambah dengan ongkos angkut.
- Harga HIP Bioetanol: Rp 13.501 per liter.
Penetapan harga ini merujuk pada keputusan yang diatur dalam Keputusan Menteri ESDM (Kepmen ESDM) Nomor 3.K/EK.05/DJE/2024 yang mengatur tentang Harga Indeks Pasar BBN jenis Biodiesel yang dicampurkan ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar. Untuk ongkos angkut, ditetapkan berdasarkan ketentuan dalam Lampiran I Kepmen ESDM Nomor 153.K/EK.05/DJE/2024.
Perhitungan Harga HIP Biodiesel
Harga HIP Biodiesel dihitung dengan menggunakan rumus yang mencakup beberapa komponen penting. Formula yang digunakan adalah:
HIP = (Harga CPO KPB Rata-Rata + 85 USD/ton) x 870 kg/m³ + Ongkos Angkut
Komponen-komponen yang terlibat dalam perhitungan ini adalah:
- Harga CPO KPB Rata-Rata: Berdasarkan periode 25 Desember 2024 hingga 24 Januari 2025, harga CPO (Crude Palm Oil) KPB rata-rata ditetapkan sebesar Rp13.827 per kilogram.
- 85 USD/ton: Merupakan biaya konversi bahan baku CPO menjadi Biodiesel.
- 870 kg/m³: Faktor satuan konversi dari kilogram ke liter.
- Ongkos Angkut: Biaya yang ditambahkan berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Selain itu, perhitungan ini juga menggunakan nilai konversi kurs dengan rata-rata kurs tengah Bank Indonesia yang ditetapkan sebesar Rp16.257 per USD.
Perhitungan Harga HIP Bioetanol
Untuk harga HIP Bioetanol, rumus yang digunakan adalah:
HIP = (Harga Tetes Tebu KPB Rata-Rata Periode 3 Bulan x 4,125 kg/L) + 0,25 USD/L
Komponen-komponen yang digunakan dalam perhitungan ini adalah:
- Harga Tetes Tebu KPB Rata-Rata: Berdasarkan periode 15 September 2024 hingga 14 Januari 2025, harga tetes tebu KPB rata-rata ditetapkan sebesar Rp2.294 per kilogram.
- 4,125 kg/L: Faktor satuan konversi dari kilogram ke liter untuk bioetanol.
- 0,25 USD/L: Biaya konversi bahan baku menjadi bioetanol.
- Kurs: Seperti pada perhitungan biodiesel, kurs yang digunakan adalah rata-rata kurs tengah Bank Indonesia yang tercatat sebesar Rp16.177 per USD.
Dengan menggunakan rumus tersebut, harga per liter bioetanol untuk Februari 2025 dipatok pada angka Rp13.501.
Tujuan Penetapan Harga BBN Biodiesel dan Bioetanol
Penetapan harga HIP untuk Biodiesel dan Bioetanol merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan kestabilan pasokan energi terbarukan, serta mendorong penggunaan energi ramah lingkungan sebagai alternatif bahan bakar fosil.
Kebijakan ini juga mendukung pengembangan sektor energi terbarukan di Indonesia, yang memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Selain itu, dengan harga yang stabil dan wajar, diharapkan bisa memberikan insentif bagi produsen energi terbarukan untuk terus meningkatkan kapasitas produksi, serta menciptakan ekosistem yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Kontribusi terhadap Perekonomian dan Lingkungan
Dengan harga yang terjangkau, penggunaan Biodiesel dan Bioetanol diharapkan akan semakin meningkat, sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi karbon dan mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060.
Langkah ini juga diharapkan dapat membantu menciptakan pasar energi terbarukan yang lebih kompetitif dan berkelanjutan di masa depan.
Kesimpulan
Penetapan harga HIP Biodiesel dan Bioetanol untuk Februari 2025 oleh Kementerian ESDM adalah langkah penting dalam mendukung program energi terbarukan di Indonesia.
Dengan perhitungan yang transparan dan berbasis pada harga pasar bahan baku, diharapkan kebijakan ini bisa mendorong keberlanjutan penggunaan energi bersih, serta meningkatkan kontribusi sektor energi terbarukan terhadap perekonomian Indonesia.
Dengan langkah-langkah strategis ini, Indonesia semakin dekat dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan menciptakan masa depan yang lebih ramah lingkungan.








