Pasar kripto mengalami penguatan dalam 24 jam terakhir, dengan Bitcoin (BTC) menunjukkan kenaikan yang signifikan. Hal ini sebagian besar didorong oleh perkembangan jaringan Layer-2 (L2) yang pesat, yang meningkatkan kegunaan Bitcoin di luar sekadar penyimpan nilai.
Menurut data dari Coinmarketcap, pada Sabtu (15/2/2025) pukul 08:30 WIB, kapitalisasi pasar kripto global mengalami kenaikan 1,13%, mencapai US$ 3,24 triliun.
Bitcoin, sebagai kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, tercatat naik 1% dalam 24 jam terakhir, dengan harga saat ini berada di level US$ 97.739 per koin, atau sekitar Rp 1,58 miliar (dengan kurs Rp 16.260).
Ethereum (ETH) juga mengalami penguatan sebesar 1,53%, mencapai harga US$ 2.720 per koin. Sementara itu, Binance Coin (BNB) mengalami penurunan sebesar 2,56%, dengan harga saat ini sebesar US$ 658 per koin.
Mengutip Cryptonews, Bitcoin kini tidak hanya dilihat sebagai aset simpanan, tetapi juga sebagai instrumen keuangan yang lebih produktif berkat solusi Layer-2. Dengan menggabungkan keamanan dan fitur pemrograman canggih Bitcoin, sektor ini diprediksi akan mendorong era baru dalam desentralisasi keuangan (DeFi).
Laporan dari Galaxy Research menunjukkan bahwa jumlah jaringan Layer-2 Bitcoin meningkat pesat, dari hanya 10 pada tahun 2021 menjadi 75 pada tahun 2023.
Pada tahun 2024, lebih dari 36% dari total pendanaan ventura Bitcoin L2 telah terkumpul, dengan proyeksi lebih dari US$ 47 miliar BTC akan terhubung dengan L2 pada 2030.
Namun, meskipun mengalami perkembangan yang pesat, banyak pemegang awal Bitcoin (hodlers) yang masih enggan memanfaatkan potensi penuh dari L2.
Willem Schroé, CEO Botanix Labs, menjelaskan bahwa para hodlers dapat meraih imbal hasil tanpa harus menjual BTC mereka, melalui fitur-fitur seperti staking dan lending yang ada pada jaringan L2.
Keengganan ini sebagian besar disebabkan oleh kompleksitas teknologi yang terkait dengan L2.
Rena Shah, COO Trust Machines, menilai bahwa komunitas Bitcoin perlu memahami kebutuhan pengguna Layer-1 (L1) terlebih dahulu sebelum mendorong adopsi L2.
Meskipun demikian, dengan hadirnya solusi berbasis keamanan seperti BitVM, kepercayaan terhadap Bitcoin L2 semakin meningkat.
“Bitcoin selama ini hanya dianggap sebagai penyimpan nilai. Namun, dengan L2, Bitcoin kini dapat menjadi aset produktif tanpa mengorbankan keamanannya,” kata Schroé.
Banyak ahli memperkirakan bahwa 2024 bisa menjadi tahun di mana Bitcoin dimanfaatkan secara lebih aktif dalam ekosistem keuangan.
Platform seperti Mezo dan Solv Protocol memungkinkan BTC digunakan dalam ekosistem pinjaman dan staking, memberi investor kesempatan untuk mendapatkan keuntungan tanpa harus menjual aset mereka.
Jika solusi L2 terus berkembang dan mendapatkan kepercayaan dari komunitas, tahun ini berpotensi menjadi titik balik dalam cara Bitcoin digunakan, tidak hanya sebagai aset simpanan, tetapi juga sebagai bagian dari sistem keuangan yang lebih luas.
Meski demikian, Bitcoin mengalami penurunan harga selama lima pekan berturut-turut. Analis dari Standard Chartered, Geoff Kendrick, menyoroti fenomena ini sebagai sesuatu yang tidak biasa, mengingat pergerakan harga Bitcoin sepanjang 2024 yang relatif stabil pada akhir pekan.
Kendrick mencatat bahwa dalam lima pekan terakhir, harga Bitcoin selalu mengalami penurunan pada periode Jumat pukul 17:00 ET hingga Minggu waktu yang sama.
Beberapa faktor yang diyakini memicu ketidakpastian harga termasuk berita terkait DeepSeek AI dan ancaman tarif impor dari mantan Presiden AS, Donald Trump.
“Ini bukan kondisi normal,” ujar Kendrick. Dia menambahkan bahwa pergerakan besar harga Bitcoin lebih sering terjadi pada hari Senin dan Jumat ketimbang akhir pekan.
Bagi para investor yang khawatir dengan fluktuasi harga akhir pekan ini, ada faktor tambahan yang perlu diperhatikan. Akhir pekan ini, Amerika Serikat memperingati Hari Presiden, yang berarti akan ada libur panjang dan volume perdagangan yang lebih rendah. Hal ini dapat menyebabkan volatilitas harga Bitcoin yang lebih tinggi.








