beritane.com
beritane.com

Pemerintah dan Swasta Gencar Wujudkan Energi Terbarukan di Indonesia

Pemerintah dan Swasta Gencar Wujudkan Energi Terbarukan di Indonesia

Pemerintah Indonesia bersama sektor swasta semakin intensif dalam upaya pengembangan energi terbarukan di tanah air.

Hal ini diungkapkan oleh Manajer Industrialisasi Sales Pertamina Patra Niaga, Samuel Hamonangan Lubis, pada acara Konferensi Internasional Kelapa Sawit dan Lingkungan (ICOPE) 2025 yang digelar di Convention Center Grand Bali Beach Sanur, pada 14 Februari 2025.

Dalam konferensi tersebut, Samuel menekankan pentingnya pengembangan biodiesel berkelanjutan sebagai bagian dari masa depan energi Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa bioenergi memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang selama ini menjadi penyebab dampak lingkungan yang negatif.

Sejak 1 Januari 2025, pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan penggunaan biodiesel B40, yaitu campuran 40% minyak sawit dengan 60% solar. Langkah ini dianggap sebagai sebuah pencapaian besar dalam menuju ketahanan energi nasional.

Samuel juga menyampaikan bahwa pada tahun depan, pemerintah akan memulai penelitian untuk pengembangan biodiesel B50.

“Kami berharap dapat melanjutkan ke B50 pada 2026, bahkan mencapai B100 di masa depan. Kami perlu mempersiapkan diri untuk memastikan pasokan energi yang berkelanjutan,” ujar Samuel pada hari ketiga konferensi yang berlangsung di Bali.

Tantangan dalam Mewujudkan Keberlanjutan Energi

Namun, upaya untuk mencapai keberlanjutan energi ini tidak terlepas dari berbagai tantangan. Samuel menyebutkan dua isu utama yang dihadapi, yakni skala ekonomi dan kendala teknis.

“Pemerintah telah memberikan insentif yang mendukung bagi petani dan produsen untuk meningkatkan produksi biodiesel. Meski demikian, masalah teknis masih tetap menjadi tantangan,” ungkapnya.

Peningkatan signifikan dalam penggunaan biodiesel juga tercatat, di mana pada 2021 realisasi penggunaannya mencapai 9,4 juta kiloliter, dan pada 2025 diperkirakan akan meningkat menjadi 15,61 juta kiloliter.

Di 2026, diprediksi konsumsi biodiesel akan mencapai 19,52 juta kiloliter dengan nilai mencapai Rp 290 triliun. “Ini merupakan peluang besar bagi petani dan produsen,” tambahnya.

Harga Biodiesel Menjadi Tantangan

Namun, harga biodiesel menjadi salah satu tantangan besar yang harus dihadapi, mengingat harga biodiesel saat ini sekitar Rp 22.650 hingga Rp 22.900 per liter, sementara harga diesel jenis Dexlite sekitar Rp 14.600 per liter dan Pertamina Dex Rp 14.800 per liter, yang jelas lebih murah dibandingkan biodiesel.

“Pelanggan sering mengeluhkan harga yang tinggi. Produsen perlu menstabilkan harga agar tetap terjangkau oleh masyarakat. Jika tidak, industri ini akan terhambat dan bisa mati. Kita tidak bisa hanya menunggu,” tegas Samuel.

Komitmen Pertamina dalam Energi Terbarukan

Di tengah tantangan ini, Pertamina berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon serta ketergantungan terhadap bahan bakar fosil demi energi terbarukan, salah satunya melalui pengembangan diesel HVO (hydrotreated vegetable oil) sebagai alternatif biodiesel.

Samuel mengakhiri dengan menyatakan bahwa meskipun masa depan biodiesel di Indonesia tampak cerah, keberhasilan pengembangan energi terbarukan ini sangat bergantung pada kerja sama yang erat antara pemerintah, produsen, dan masyarakat.

“Seperti yang disampaikan Presiden (Prabowo Subianto), kita tidak bisa lagi mengandalkan impor. Kita harus mandiri dalam hal energi,” tutup Samuel dikutip dari Radar Bali.