beritane.com
beritane.com

Penurunan Impor Indonesia Tandakan Pelemahan Industri Manufaktur dan Tantangan Ekspor

Impor Indonesia

Energia – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menilai penurunan impor Indonesia di awal tahun 2025 memberikan sinyal adanya pelemahan pada sektor industri manufaktur dalam negeri.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia pada Januari 2025 tercatat sebesar USD18 miliar atau sekitar Rp291,8 triliun (kurs Rp16.212).

Angka ini menunjukkan penurunan signifikan, yakni 15,18 persen secara bulanan (month-to-month) dibandingkan dengan Desember 2024, serta turun 2,67 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year).

Rizal menjelaskan bahwa penurunan impor Indonesia ini mencerminkan melemahnya permintaan domestik, yang pada gilirannya bisa menjadi indikasi dari perlambatan aktivitas industri dan konsumsi dalam negeri.

“Penurunan impor menunjukkan adanya penurunan dalam permintaan domestik, yang bisa mencerminkan pelambatan aktivitas industri serta konsumsi masyarakat,” ujarnya dalam wawancara dengan Media Indonesia, Senin, 17 Februari 2025.

Ia juga menegaskan bahwa sektor manufaktur di Indonesia belum sepenuhnya pulih. Hal ini dapat dilihat dari penurunan impor barang konsumsi dan bahan baku/penolong pada bulan Januari 2025.

Rizal mengungkapkan bahwa kondisi ini mengindikasikan adanya ketergantungan besar Indonesia terhadap bahan baku impor untuk mendukung proses produksi di sektor manufaktur.

“Sektor manufaktur kita belum menunjukkan pemulihan yang kuat. Kita juga melihat adanya ketergantungan yang masih besar pada bahan baku impor untuk proses produksi dalam negeri,” tambah Rizal.

Penurunan Impor Indonesia dan Sektor Ekspor

Tidak hanya impor Indonesia yang mengalami penurunan, sektor ekspor Indonesia juga menunjukkan angka yang tidak menggembirakan.

Menurut Rizal, tekanan eksternal yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik global dan kebijakan moneter ketat di negara maju turut memberikan dampak terhadap ekonomi Indonesia.

Namun, ia juga menilai tantangan internal seperti rendahnya nilai tambah ekspor Indonesia serta kurangnya keberagaman produk ekspor turut memperburuk situasi tersebut.

“Penurunan ekspor komoditas utama seperti batu bara, minyak sawit, dan nikel menjadi bukti adanya kelemahan fundamental ekonomi kita yang masih terlalu bergantung pada sektor primer. Ini perlu segera diatasi,” jelasnya.

Ke depan, Rizal menyarankan agar pemerintah fokus pada transformasi ekonomi, dengan mendorong hilirisasi dan memperkuat daya saing sektor manufaktur Indonesia.

Jika langkah ini tidak dilakukan, ia memperingatkan bahwa surplus perdagangan yang tercatat pada Januari 2025 hanya akan bersifat sementara, dan lebih disebabkan oleh pelemahan impor daripada peningkatan kinerja ekspor yang berkelanjutan.

Pada Januari 2025, meski impor menunjukkan penurunan, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD3,45 miliar atau setara dengan Rp55,81 triliun (kurs Rp16.212). Angka ini meningkat USD1,21 miliar jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Namun, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal, menambahkan bahwa sejumlah mitra dagang utama Indonesia masih menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi. Hal ini berpotensi membuat permintaan dari negara-negara mitra dagang Indonesia menjadi lebih lemah di masa mendatang.

“Jika kita melihat prospek ekonomi global, Amerika Serikat berpotensi mengalami pelambatan, begitu juga dengan India yang semakin menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Semua ini akan berdampak pada prospek ekspor kita,” ujar Faisal.

Selain itu, Faisal juga mengkritisi defisit perdagangan Indonesia dengan Tiongkok. BPS mencatatkan bahwa Indonesia mengalami defisit perdagangan sebesar USD1,77 miliar dengan Tiongkok, karena nilai impor Indonesia dari negara tersebut lebih besar daripada nilai ekspor yang dikirimkan ke sana.

“Permintaan dari Tiongkok memang sudah rendah dalam beberapa waktu terakhir, meskipun negara tersebut masih menghadapi oversupply. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi ekspor Indonesia ke Tiongkok,” tambah Faisal.

Dengan menghadapi tantangan internal maupun eksternal yang berat, Rizal dan Faisal sepakat bahwa penting bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada sektor primer dan meningkatkan daya saing produk manufaktur.

Hanya dengan langkah-langkah struktural yang konkret, Indonesia dapat memperbaiki kinerja ekspor dan menumbuhkan sektor manufaktur yang lebih kompetitif di pasar global.

Namun, tantangan tersebut juga membuka peluang bagi Indonesia untuk mempercepat proses transformasi ekonomi dan diversifikasi produk, sehingga kedepannya negara ini bisa lebih tahan terhadap tekanan global yang tidak pasti.